Translate

Minggu, 18 Januari 2015

Singapura menolak cetak iklan "Charlie Hebdo"

Singapura menolak cetak iklan
Ilustrasi - Negeri jiran Singapura (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)

"Tidak ada kebebasan berekspresi tanpa batas. .. Hak untuk berbicara secara bebas dan sensitif harus datang bersama-sama"
Singapura - Pembaca majalah "The Economist" di Singapura akan menemukan halaman kosong dalam edisi terbaru majalah tersebut.

Halaman ini dimaksudkan untuk mempublikasikan gambar sampul terbaru majalah satir Prancis "Charlie Hebdo", tetapi percetakan lokal majalah itu menolak untuk melakukannya, kata media lokal melaporkan, Jumat.

Halaman ke-22 majalah itu melompong tak berisi apa-apa kecuali dua kata "Halaman Hilang", kata Lianhe Zaobao.

"The Economist" menjelaskan bahwa itu karena percetakan lokal mereka di Singapura menolak untuk mencetak sampul terbaru dari "Charlie Hebdo", yang menggambarkan Nabi Muhammad menumpahkan air mata dan memegang tanda bertuliskan "Je Suis Charlie" (Saya Charlie).

Printer Times, perusahaan yang mencetak majalah itu, mengatakan dalam satu pernyataan media pada Jumat bahwa "The Economist" mengatakan kepada mereka, telah memutuskan untuk menerbitkan sampul di edisi Inggris, Asia, Amerika Serikat, dan Eropa, serta meminta percetakan untuk membiarkan mereka tahu jika pihaknya prihatin atas kasus itu, harian "Strait Times" melaporkan.

"Kami berkonsultasi dan mencatat keprihatinan kami dengan The Economist. Setelah musyawarah, The Economist mengirimkan halaman pengganti bagi kita sesuai yang telah kita cetak," kata pernyataan itu.

Yaacob Ibrahim, Menteri Komunikasi dan Informasi Singapura, pada hari yang sama mengatakan bahwa ia menghargai keputusan perusahaan percetakan itu.

"Tidak ada kebebasan berekspresi tanpa batas. .. Hak untuk berbicara secara bebas dan sensitif harus datang bersama-sama," kata Yaacob.

Media Development Authority (MDA) Singapura juga menyambut keputusan tersebut.

"Ini menunjukkan pemahaman industri kami dari kepekaan yang terlibat, serta rasa hormat mereka untuk keharmonisan ras dan agama di Singapura," katanya.

Muslim Timur Tengah memprotes kartun Nabi Muhammad

Amman - Para warga Muslim berpawai di kota-kota di kawasan Timur Tengah untuk menentang penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh majalah Prancis Charlie Hebdo, sementara Qatar memperingatkan bahwa gambar itu akan "membakar kebencian".

Pawai terbesar berlangsung di Jordania, sebanyak 2.500 pengunjuk rasa turun ke jalan di ibu kota negara, Amman, di tengah pengamanan ketat sementara demonstrasi juga berlangsung di Jerusalem timur dan Khartoum.

Kerumunan pawai, termasuk para anggota Ikhwanul Muslim dan kelompok-kelompok pemuda, mulai berjalan dari masjid Al-Husseini di Amman pusat dengan memegang spanduk-spanduk bertuliskan "menghina nabi adalah terorisme global".

Majalah baru Charlie Hebdo, yang diterbitkan pada Rabu, pada sampul depannya memuat sebuah kartun Nabi Muhammad sedang memegang tanda "Je Suis Charlie (Saya Charlie)" di bawah judul "Semuanya dimaafkan".

Terbitan itu merupakan edisi pertama majalah satire tersebut sejak para pria Islamis bersenjata membunuh 12 orang dalam serangan di kantornya di Paris pada 7 Januari.

Gambar itu telah membuat marah banyak warga Muslim karena Islam melarang Nabi Muhammad dimunculkan dalam bentuk gambar.

Qatar mengecam apa yang disebutnya sebagai kartun "yang menyinggung perasaan". Kartun itu juga diterbitkan lagi oleh sejumlah koran Eropa untuk menunjukkan solidaritas terhadap para korban dalam serangan pekan lalu.

"Aksi-aksi tercela ini tidak menarik siapapun dan hanya akan mengobarkan kebencian dan kemarahan," demikian diperingatkan kementerian luar negeri Qatar. Kementerian menggambarkan aksi-aksi seperti itu sebagai "pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta prinsip hidup berdampingan, toleransi, keadilan serta penghormatan di antara masyarakat."

Partai oposisi Jordania, Front Aksi Islamis, yang merupakan sayap politik cabang lokal Ikhwanul Muslim, menyebut penerbitan kartun itu sebagai "serangan terhadap kaum Muslim di seluruh dunia".

King Abdullah II, yang pada pekan lalu bergabung dengan para pemimpin dunia saat pawai solidaritas antiteror di Paris, pada Kamis mengatakan bahwa terbitan terbaru Charlie Hebdo "tidak bertanggung jawab dan sembrono", demikian AFP.
 
Sumber : Antara