Translate

Minggu, 18 Januari 2015

Pemerintah Iran Kecam Edisi Terbaru "Charlie Hebdo"

BORIS HORVAT / AFP Sebuah toko surat kabar di Paris, Perancis memasang pengumuman yang menginformasikan majalah Charlie Hebdo edisi terbaru telah habis terjual. Meski sampul edisi terbarunya kembali menuai kontroversi, edisi perdana Charlie Hebdo pasca-penyerangan yang dicetak sebanyak 3 juta eksemplar laris manis di berbagai kota di Perancis.

TEHERAN - Pemerintah Iran, Rabu (14/1/2015), mengecam majalah satir Perancis Charlie Hebdo yang kembali menampilkan kartun Nabi Muhammad di edisi terbarunya.

Pemerintah Iran mengatakan penggunaan kembali kartun Nabi Muhammad merupakan sebuah penghinaan dan sebuah langkah provokatif.

"Sampul majalah (Charlie Hebdo) memicu emosi dan menyakiti perasaan umat Muslim di seluruh dunia serta bisa memicu lingkaran setan ekstremisme," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Marzieh Afkham.

Pemerintah Iran sendiri mengecam serangan maut ke kantor majalah Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang pekan lalu. Afkham menambahkan serangan semacam itu sama sekali tidak mewakili Islam dan bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Namun, Afkham melanjutkan, kembali digunakannya kembali kartun Nabi Muhammad sebagai sampul majalah itu justru merupakan penghinaan terhadap kebebasan berbicara yang dijunjung tinggi negara-negara Barat.

"Publikasi semacam itu tak bisa diterima dan pelecehan seperti itu seharusnya dicegah. Menghormati keyakinan dan nilai-nilai pemeluk agama-agama Ilahi merupakan sebuah prinsip utama," ujar Afkham.

Edisi terbaru Charlie Hebdo kembali menuai kontroversi setelah menampilkan kartun Nabi Muhammad memegang spanduk bertuliskan "Je Suis Charlie".

Meski menuai kontroversi, edisi terbaru Charlie Hebdo yang dicetak sebanyak tiga juta eksemplar laris diserbu warga di sebagian besar kota di Perancis.

Sumber : Antara

Qatar ingatkan kartun Nabi sulut kebencian

Qatar ingatkan kartun Nabi sulut kebencian
Polisi Perancis berjaga di sebelah mobil jenazah di depan pintu masuk kantor Charlie Hebdo, Paris (REUTERS/Philippe Wojazer)
"Tidak ada satu pun orang waras yang bersedia menerima hasutan fitnah yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi"
Doha - Qatar mengingatkan bahwa menerbitkan kartun Nabi Muhammad akan memicu kebencian dan kemarahan, sementara sebuah lembaga utama muslim menyerukan demonstrasi damai menentang mingguan Prancis Charlie Hebdo.

"Qatar mengutuk penerbitan lagi gambar ofensif Nabi Muhammad oleh majalah satir Prancis Charlie Hebdo dan pers Eropa lainnya," kata kementerian luar negeri Qatar seperti dikutip AFP.

"Kebebasan berbicara bukan berarti menghina orang lain, menyakiti perasaan orang lain, dan mengolok-olok keyakinan dan junjungan keagamaan orang lain," sambung Kemenlu Qatar seperti disiarkan kantor berita QNA.

"Tindakan tercela ini bukan untuk siapa-siapa dan hanya akan memicu kebencian dan kemarahan," kata Qatar seraya menggambarkan tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai manusia mengenai koeksistensi damai, toleransi, keadilan dan saling menghormati sesama.

Qatar mendesak media Barat untuk menghormati orang lain dan keyakinan mereka dan tidak memicu ketidaktoleranan dan ekstremisme, dan menegakkan nilai-nilai yang dibangun peradaban Barat.

Sementara itu Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional yang berbasis di Qatar yang diketuai ulama berpengaruh Yusuf al-Qaradawi, mengkritik bungkamnya dunia terhadap penghinaan agama yang disebutnya memalukan dan tak bisa dibenarkan.

Lembaga ini mengingatkan konsekuensi berat jika terus menghina Islam, Alquran dan Rasulullah.

"Tidak ada satu pun orang waras yang bersedia menerima hasutan fitnah yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi," kata lembaga itu seperti dikutip AFP.

Lembaga ini mendesak demonstrasi damai melawan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan menyeru semua pemerintah negara muslim untuk campur tangan dan menuntut hukum internasional lewat PBB ditegakkan kepada mereka yang mengkriminalisasi agama dan nabi.

Pemerintah Qatar dan lembaga pimpinan Qaradawi itu juga mengutuk serangan maut ke Charlie Hebdo pekan lalu, demikian AFP.

Sumber : antara